SIM, Suka (Di)Ingkari Masyarakat

WRONG

Image courtessy of GROGG

Yo! Aye mau cerita-cerita bacod dikit neeh, tentang sesuatu yang pasti anda-anda, bikers & driver, sering jumpai & miliki, yaitu….SIM, a.k.a Surat Ijin Mengemudi.

Ceritanya simpel kok…Emang sih sering diangkat, cuman ya aye juga pengen ngangkat dari sudut pandang seorang yang cupu kayak aye. Mangga dibaca!

WRONG

Image courtessy of Psychedelic Tuna

Jadi gini, aye kan kemarin baru mudik ke Pelabuhan Ratu tuh, yah…Namanya juga daerah pesisir & masih tergolong bukan tempat yang ramai (kecuali pas Lebaran & libur panjang), jadi ya jalanannya juga relatif lenggang, memiliki aura yang nyantai, dan tentu aja…Minim penegakan hukum.

Bagi yang demen bergaul & turing kesana, pasti rutin liat para riders, baik muda-tua-jantan-betina, dengan tipe motor apapun…Mengemudikan motornya tanpa helm & surat-surat, terlepas dari seberapa pengalamannya dalam mengemudikan motor.

Mengapa banyak (gak semua, tapi mayoritas) mereka tidak memakai helm & memiliki (atau membawa) surat-surat? Bukankah itu melanggar peraturan jalan? Bukankah disana ada penegak hukum?

Akar dari semuanya jelas mental para bikers disana…

“Melanggar itu salah kalau ketahuan”
“Peraturan dibuat untuk dilanggar”
“Ah, gak ditangkep ini kok…”
“Teuing ah”

Damn…Apakah mereka tahu, mengapa peraturan mengatakan kita, pemakai jalan, yang mengemudikan motor, haruslah memakai helm & safety gear, serta membawa surat-surat yang valid? Apakah mereka tahu resikonya jika melanggarnya? Entahlah.

Image courtessy of Dr Bhavin Jadav

“I go to jail one time for no driver license.”
-Bob Marley-

Aye jadi inget waktu aye dulu jadi salah satu member di sebuah forum motor, dan ada salah satu membernya membuat thread dengan judul yang cukup provokatif : “penting punya SIM?”

Aye kopas dikit first postingannya yang cukup menggoda :

“halo teman, cuma mau share aja. sekalian nanya, dan minta tanggepannya dong…

jadi gini, kita semua uda tau lah ya, setiap pengendara kendaraan bermotor harus memiliki SIM.
tapi emank SIM itu perlu? saya pikir tidak perlu. Kenapa?
Karena eh karena, orang yg punya SIM belum tentu tau aturan berkendaranya kok. masih aja selonong sana sini, nyerobot sana sini, gak mau ngalah. APA TUH?
lebih baik tidak punya SIM tapi tau peraturan daripada punya SIM tapi BODOH dalam berkendara

kalau kamu, termasuk golongan yg mana?”

Tentu aja, tuh thread langsung disusupi postingan balasan yang intinya menyanggah opini si TS, soal pentingnya SIM, lha wong pengen pake motor di jalan ya mesti punya SIM, karena udah ada dalam peraturannya sejak zaman 45.

Aye sekarang jadi berpikir, apakah masih banyak orang Indonesia, yang berpikiran sama dengan si TS yang masih menganggap bahwa SIM tuh kagak penting, cuman formalitas belaka, dan gak ngaruh ke sikil eh skill mengendarai & mengemudi motor?

WRONG

Image courtessy of Bindaas Madhavi

Mungkin ini karena banyaknya terjadi kecelakaan di jalan, yang rata-rata dialami oleh para pengemudi yang melanggar, meskipun dirinya sudah mengantongi SIM, yang membuat publik beropini bahwa SIM itu mirip Ijazah : Penting, namun gak ngaruh ke kemampuan, serta bisa diotak-atik & “mudah” untuk mendapatkannya.

Padahal? Memang gak semua sarjana itu punya kemampuan yang ia dapat selama belajar di akademi, namun minimal…Ingat, minimal ia SUDAH DIANGGAP LULUS TES KEMAMPUAN DI BIDANGNYA OLEH PIHAK YANG BERTANGGUNG-JAWAB.

Apakah SIM juga sama seperti Ijazah? Ya.

Seseorang yang mengantongi SIM dengan identitas miliknya & diakui, adalah seorang yang menurut pihak yang bertanggung-jawab akan lalu-lintas jalan raya, sudah boleh menggunakan kendaraan di jalan raya, karena dianggap mampu memakai kendaraan itu dengan baik, dan tentu aja mampu mematuhi peraturan lalu-lintas, dengan persyaratan yang berlaku.

Apakah orang yang punya SIM bisa melanggar peraturan lalu-lintas? Tentu aja.

Apakah orang yang punya SIM punya kemampuan yang lebih baik dalam mengemudikan motor dibanding yang gak punya? Belum tentu.

Apakah orang yang punya SIM itu lebih benar & taat peraturan dibanding yang gak punya? JELAS

Mengapa? Tentu aja karena orang yang punya SIM, minimal mematuhi peraturan pertama dalam mengemudikan kendaraan di jalan raya, yaitu ya punya SIM.

Wrong

Image courtessy of Oanis

Lalu, mengapa masih banyak rakyat Indonesia yang menganggap SIM itu gak penting? Adakah alasan valid untuk menyanggah hal itu? Gak ada.

Aye beri contoh : Misalkan ente lagi ngebut di jalan raya, gak kenceng banget, tapi itungannya dah kenceng…Terus ada pengemudi lain tanpa SIM yang ikutan ngebut disamping anda, dan tiba-tiba BRAKKK….Anda & dia nyenggol, dan 2-2nya jatuh.

Datang polisi, cek ini-itu, dan menindak-lanjut kecelakaan ini, tebak…Siapa yang salah?

Jelas yang gak punya SIM.

Mengapa?

1. Karena dia gak punya SIM.

2. Karena dia dianggap tidak mampu mengemudi motor di jalan raya, karena tidak punya SIM.

3. Karena dia dianggap salah karena nabrak anda (meski sebenarnya saling berbenturan.) Mengapa? Ini karena gabungan dari poin ke-2 & ke-1 : Dia dianggap tidak mampu mengemudi motor di jalan raya, karena tidak punya SIM.

Tidak percaya? Coba anda ditabrak seseorang (contohnya anak muda) yang gak punya SIM, pasti dia gak mau urusan kecelakaan ini diurus oleh pihak berwenang. Karena pasti dia yang akan jadi pihak yang dianggap bersalah, sekalipun babeh-nya adalah Polisi. Lha wong dia salah gak punya SIM kok lancang berkendara di jalan tanpa surat-surat.

Wrong

Image courtessy of apis J

Nah, sekarang kenapa banyak orang menganggap remeh akan kartu ajaib nan sakti ini? Apakah karena banyak yang punya SIM sekarang itu kebanyakan nembak, jadi skill-nya dipertanyakan?

Realitanya memang begitu. Sewaktu SMA, pernah ada pembuatan SIM C di sekolah, dan bagi yang punya SIM, disarankan untuk kembali dibuktikan kemampuan mereka. Nyatanya? Jangankan melintasi kun-kun dengan lihai, ngerem & kasih lampu sein aja sembarangan.

Ada pula yang menganggap bikin SIM itu mahal, karena akan dikenai proses yang berbelit-belit & rumit. Belum lagi biaya tidak terduga atau muncul hasutan-hasutan Calo jika anda gagal di test teori atau praktek.

Learning Bike

Image courtessy of Keetra

Ah sudahlah, kita jangan berpikiran & mengajarkan itu. Aslinya kan bikin SIM itu mudah :

Daftar – Isi formulir – Test praktek – Lulus tahap pertama – Test Teori – Lulus – Foto & TTD – Bayar = SIM langsung bersarang di dompet.

Kalau anda gagal di pengetesan teori, ya berarti anda kurang pinter dalam memecahkan masalah & logika-logika di jalan raya. Bukan masalah soal yang diganti jawabannya atau sengaja tidak diluluskan. Jika anda merasa jawaban anda bener, dan lebih dari 17, ya langsung komplain, minta cek ulang. Kalau oknum Polisi tidak mau, ya udah gak bener tuh…

Atau ambil opsi test pakai komputer, biar hasilnya langsung nongol di muka. Rata-rata kalau minta komplain, nanti dikasih remedial, trus hasilnya bakal mepet lulus, dengan angka 18-19.

Kalau anda gagal di test praktek atau simulator, dengan alibi motor yang dirusak atau susah dikendalikan, ya ini salah anda kenapa tidak belajar dulu dalam mengendalikan motor. Jika motor yang disedian polisi itu bagi anda susah, ya bawa motor sendiri.

Learning YZ

Image courtessy of emoist

Kalau tidak punya ya pinjem tetangga atau sodara. Kalo sodara & tetangga ga ada yang punya motor ya berarti anda tinggal di tengah lautan. Masa keteraluan banget alasannya. Mesti ada usaha dalam menggapai suatu tujuan.

Mahal? Gak juga. Dulu saya bikin cuman abis 85 ribu bonus pensil 2B sama Aqua dikasih pas test praktek. Kalau sekarang sepertinya naik, tapi tentu lebih ekonomis dibanding nyumpelin dompet oknum calo atau polisi nakal, apalagi gak ngantongin SIM.

Yang terakhir, kenapa sih SIM itu penting banget? Jawabannya karena kita tinggal di Indonesia, dengan hidup yang diatur oleh peraturan-peraturannya. Ya kalau di jalan mesti pakai helm, punya surat-surat yang valid, serta kondisi & kelengkapan motor yang memenuhi syarat.

Kalau gak mau, atau gak rela matuhin peraturan-peraturan itu, ya mending gak usah bawa motor sendiri. Daripada membahayakan orang lain & diri sendiri?

Learning N250

Image courtessy of Jenking Vegchef

Ini ada tambahan dikit, dalam mesti diperhatikan sebelum memberi kunci motor pada anak ato sodara anda. Bila Anda merasa harus memberikan kendaraan bagi anak, ada beberapa hal yang mesti Anda lakukan :

1. Pastiin usia anak Anda udah memenuhi syarat untuk memperoleh SIM. Jangan pernah kasih motor kepada anak yang belum memiliki SIM C, kecuali untuk dielus-elus & dicumbu. Inget, kalo dia minta motor ya kasih motor, jangan sepeda roda-3, nanti stress dia.

2. Liat kondisi emosinya. Anak yang emosinya belum matang / labil ciri-cirinya antara lain suka marah, meledak-ledak, sensitip, dan mood-nya naik-turun. Kalo gitu mending naik angkot atau dianter aja. Bike 2 School & Work juga bahaya, kalo labil ya naik sepeda juga bisa nabrak orang nanti.

3. Susupi pengetahuan tentang manfaat, bahaya, konseskuensi serta risiko yang bisa terjadi dari mengemudi motor. Jangan cuman mikir enaknya doang, bisa gaul, ikut geng motor ato angkut cewek dengan enteng. Alamat celaka nanti dia.

4. Kasih pengetahuan dasar tentang safety riding. Informasi ini bisa Anda peroleh via internet, buku, atau blog yang sedang Anda baca ini. (Misalnya belajar ngerem). Tapi inget, perhatikan validitas & tingkat kesahihannya, kalo sesat ya jangan diajarin, entar malah kacau.

5. Beri pengetahuan dasar serta contoh mengenai berkendara yang benar dan pentingnya mematuhi aturan lalu lintas. Lebih bagus lagi jika Anda mau memasukkan anak ke sekolah mengemudi profesional. Gak perlu diajarin pembalap ato dewa, yang penting dia ngerti gimana riding yang bener aja.

6. Lakukan evaluasi teori dan praktik atas pengetahuan safety riding yang sudah didapat. Lihat gimana pemahaman anak dan perilakunya saat mengemudi. Inget, anda juga mesti ngerti tata-cara mengemudi. Kalau anda sesat juga sama aja boong.

7. Setelah mereka dapet SIM dan Anda percayai untuk mengemudi sendiri, jangan lupa untuk melakukan kontrol atau pengawasan secara berkala. Baik ajak dia mengemudi bersama anda, atau tanya masih ada SIM-nya ato kagak, jangan-jangan dah digadaikan.

8. Inget, meski secara kemampuan, anak anda bisa punya SIM, ada yang mesti diperhatikan : Kecelakaan bisa terjadi pada siapapun juga, dimanapun & kapanpun. Jadi ajarin cara berdoa yang bener sebelum & sesudah perjalanan, biar Yang Diatas menyertai kita & anak anda setiap kali riding di jalan raya.

Udah ah, mau siap-siap sebar kasur, saatnya mengkhayal & berfantasi senonoh lagi…

About RYHN.FRDS

Your dangerously addictive photographer. Excels at motography, riding crap bikes & cursing about it.

29 responses to “SIM, Suka (Di)Ingkari Masyarakat

  1. 16 Tahun sudah bisa bikin(secara legal ya) belum sih ?

  2. sebagai pengendara yang baik…..harus punya SIM lah……
    daripadan kita nanti ditilang…….lebih baik duitnya buat beli burung kutilang gan…..hhehe

  3. SIM jelas wajiblaghh:mrgreen:

    tapi yang udah pegang SIM sebaiknya juga menunjukkan habit berkendara yang positif…pake helm, celana panjang, sepatu, tiap kali ride. Mau deket ato jauh……..

    dan yang paling penting….tidak ugal2an di jalan

  4. SIM itu ya perlu lahhh
    sebagai bukti kita udah dewasa di jalanan
    tapi lebih perlu lagi tingkah laku mengemudi kendaraan di jalan. Soalnya yang jalannya ngawur kadang bukan motor aja, yang rodanya 3, 4 ampe 18 kadang ya ugal2an.

  5. tonny 'tones'

    Jangan pernah ijinkan anak <17 thn mengendarai kendaraan terutama motor, percaya deh bahaya.
    terutama bocah ingusan, krn selain blm memiliki SIM dari segi kontrol tdk memungkinkan.

    menurut saya memberikan ijin anak mengendarai motor sama dengan kasih narkoba, jrn pasti akan ketagihan dan mencoba lebih dari sekedar mengendarai.

    pikirkan sebelum anda memberikan ijin terutama para orang tua.

  6. binun bacane…😛

    nais inpoh mazbro

    salken😀

  7. Hasyim Ashari

    Aye 16 tahun bikin SIM ga nembak dan legal kok, salah ga ya?🙄

  8. arie

    misi om… boleh minta izinnya buat sedot gambar2nya?? nuhun om…

  9. sim ane nembak😮 hehehehe……..

    moga2 aja, riding style ane ngga ‘nembak’ juga😮

Komentar? Caci-Maki? Curhat? Iklan? Titip Link? Tulis Aje!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: