Belajar Ngerem Part 3 : Menyesuaikan Gaya Pengereman Dengan Motor

Spin Stoppie
Setelah aye berbusa-busa mengetik part-1 & 2….sekarang kite lanjut yook ke part-3 : Menyesuaikan Gaya Pengereman Dengan Motor

Menyesuaikan Gaya Pengereman Dengan Motor
Bikin motor itu menguntungkan, liat aja di jalan…banyak motor, beragam tipe & merek. Menyebabkan banyak ragam akan riding position, grip & lain-lainnya. Tentunya, mengerem dengan Honda PCX, berbeda dengan mengerem dengan MV Agusta F4 bukan? Sekarang kita akan chit-chat dikit soal mengerem dan hubungannya dengan tipe motor

1. Motor (hampir) tanpa rem belakang
Hard Braking
Ada tipe motor, yang memiliki pembagian beban yang lebih berat di depan, bahkan saat lagi gak ngerem. Biasanya motor kayak gini, memiliki jarak roda yang pendek, dan roda depannya berada & langsung diatur oleh setang. Contohnya? Motor sport, seperti Motor-motor MotoGP, Kawasaki Ninja, Keluarga Suzuki Raider, atau Shogun SP hahaha…

Makanya, di motor-motor tipe itu, ukuran & kekuatan remnya lebih kuat di depan. Liat aja ukuran cakram & jumlah piston kalipernya. Otomatis, peran rem depan, lebih penting dibanding rem belakang, sehingga gak butuh & mengerem dengan rem belakang. Lihat saja para pembalap MotoGP, untuk mengurangi kecepatan & mengerem, mereka lebih sering pakai rem depan. Tapi mesti diingat, rem belakang juga masih dibutuhkan! Untuk apa? Baca lagi poin ke-5 di latihan mengerem

2. Motor (hampir) tanpa rem depan
Harley ABS
Lain lagi dengan ini…motor dengan geometri yang memiliki jarak roda yang cukup lebar, atau pembagian bebannya tidak condong berat ke depan. Contohnya? Motor skuter (karena mesin berada di tengah), Cruiser macam Honda Goldwing atau Yamaha V-Max, atau motor Chopper (baik custom atau setandar kayak HD)

Karena beban yang ditanggung di roda depan tidak terlalu sebesar motor sport, membuat penggunaan rem belakang lebih penting dalam mengurangi kecepatan motor, bahkan gak perlu pakai rem depan. Liat aja para builder Chopper, banyak yang dengan enteng membangun motor tanpa rem depan

Jadi, mengerem juga harus sesuai dengan tipe motornya…tapi tetep, dalam mengerem, kedua rem (depan-belakang) masih harus bekerja sama & sinergis, agar keamanan dalam mengerem masih terjaga

Aksesoris & Membonceng
Shogun NR Boks
Sekarang, yang pake boks di motor segede-gede rice cooker gak cuman motor cruiser kayak Honda GoldWing atau motor sport touring macam BMW K1300R aja, tapi juga motor-motor dengan kapasitas mesin kecil macam Suzuki Shogun atau mongtor matik. Tentunya, pembagian beban motor juga berubah, gak semuanya di depan….gara-gara beban di belakang bertambah

Solusinya? Ya harus siap-siap memakai kedua rem dengan baik, terutama rem depan. Kalau berat boks masih ringan, mungkin style mengerem biasa (pake rem depan) masih tetap bisa dipake, namun ketika sedang membawa boks dengan beban yang penuh, ya rem belakang juga dipakai, lebih sering dibanding dibanding kondisi standar

Selain aksesoris, beban lain seperti barang atau manusia (membonceng kamsudnya) juga sama aja. Penggunaan rem belakang harus lebih banyak, terutama ketika membonceng. Selain demi keamanan, juga demi kenyamanan. Kagak enjoy kan, lagi bonceng ama cewek, tiba-tiba ngerem mendadak bahkan hard braking….lu sih enak, die yang enek

Hati-hati Saat Menarik Tuas
Z Hard Braking
Inget, saat motor lagi ngayun kedepan karena ngerem, anda mesti hati-hati saat menarik tuasnya. Kalau anda menarik tuas rem dengan gila-gilaan, bisa bikin per depan di suspensi terdorong sampe puncaknya / mentok, serta kaliper yang nancep di cakram. Akibatnya? Ban ngunci….berabe kan?

Balik lagi ke tipe motor. Kalau motor dengan jarak suspensi yang pendek kayak bebek atau matic, mengerem lebih enteng & mudah, karena pembagian bobot oleh suspensi lebih cepat karena panjang per-nya lebih pendek

Bandingin ama motor Chopper atau motor lain dengan jarak suspensi yang panjang kayak Triseda, yang butuh waktu yang lebih lama agar roda depan mendapatkan beban yang cukup. Trus? Ya itu…ngerem dengan motor gitu gak bisa secara spontan tarik-trus-brenti…mesti butuh momen yang lebih lama…

Hal ini juga belaku pada motor dengan jarak roda yang cukup besar & beban yang lebih condong ke belakang. Saat hard-braking, beban yang mestinya segera tertahan oleh suspensi & dihentikan oleh rem depan, jadi sedikit lebih lama & gak cukup kekuatan akan rem depan…makanya kalo pake matic atau Chopper itu jangan kenceng-kenceng…

Kalo di motor sport gimane? Sama aja…meski peran rem belakang gak segede rem depan, namun yang mesti diperhatikan adalah beban yang ditanggung ama roda belakang? Lha trus? Kalo lagi ngerem (terutama kuat), ada kemungkinan roda belakang jadi terangkat dari aspal = grip belakang jadi 0 (nol)

Solusinya? Kurangi tarikan di tuas rem depan, sehingga beban kembali ke tengah, simpel tapi suka terlupakan oleh rider karena kaget atau deg-degan. Tentu saja…kondisi roda belakang terangkat ini, hanya terjadi ketika anda ngerem dengan kekuatan maksimum…

Oke, saatnya kite lanjut ke part selanjutnya, HARD Braking & Cara Melatihnya!

About RYHN.FRDS

Your dangerously addictive photographer. Excels at motography, riding crap bikes & cursing about it.

Komentar? Caci-Maki? Curhat? Iklan? Titip Link? Tulis Aje!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: